Dia berdiri dengan gamang di atas balkon lantai 2 rumahnya. Dia memandang sekeliling. “sepi” bantinnya. Hanya sesekali dia melihat penjual bakso dengan gerobak kuningnya yang berjalan perlahan. Berharap beberapa orang perlu menghangatkan perut mereka dengan kuah bakso yang ia jual, ditengah-tengah udara yang dingin sore ini.
Dingin. Dia mulai merasa kedinginan. Dia menggosok sendiri kedua lengannya. Tapi udara dingin yang semakin terasa dingin sore itu tak mau hilang juga. Mungkin bukan lengannya yang dingin karena udara. Tapi ada sesuatu yang membuat semuanya terasa serba kebas.
Dia masuk kedalam dan mengunci pintu yang terbuat dari kayu dan kaca. Dia mundur dan terduduk di atas sofa. Dari dalam sana dia masih bisa melihat keadaan luar yang mulai menggelap karena awan comulus yang sebentar lagi menumpahkan semua isinya. Sementara angin semakin berhembus kencang. Dia tahu itu manakala dia melihat pucuk-pucuk daun dari sebuah pohon yang tidak dia ketahui namanya, yang tumbuh di seberang jalan depan rumahnya, meliuk-liuk bak penari mabuk. Semuanya jadi terlihat jelas dari dalam sana, melalui jendela lebar yang sengaja tak dia tutup tirainya.
Dia menarik nafas pelan dan kemudian meraih sebuah bantal kecil diujung sofa dan mendekapnya.
Sore ini dia sendirian. Seharusnya tidak begitu. Seharusnya ada orang itu. Tapi dia memutuskan untuk tidak bertemu. Orang itu…entah dimana dia sekarang. Entah apa yang sedang dia lakukan.
Dia memejamkan mata pelan. Melihat kembali semuanya. Semua yang sudah terjadi beberapa waktu ke belakang. Sangat manis. Sangat indah meski sederhana. Tak ada yang berlebihan. Tak ada yang keterlaluan. Semuanya, meski datar, tapi indah dimatanya.
Matanya membuka dan semua hal yang nyata kembali terlihat. Jendela kaca yang tak dia tutup tirainya itu menampilkan semua hal yang ada di luar sana. Badai yang sebentar lagi akan datang. Hujan yang sebentar lagi akan turun. Banjir yang sebentar lagi akan menggenang. Semuanya. Semuanya tentang sesuatu yang semrawut. Itu kenyataan sekarang. Dan ditengah keadaan yang semrawut itu dia sendirian. Di dalam sana. Di ruangan putih dan abu-abu itu. Sendirian. Kedinginan meski angin tak mampu menembus kedalam.
…
Sebagai kekasih, dia sadar bahwa dia punya banyak sekali kekurangan. Menurut orang kebanyakan, hal itu adalah cacat sebagai seorang manusia. Meski anggota tubuhnya masihlah utuh, tapi tetap saja, ada banyak cacat dalam dirinya. Dia sadar betul itu. Itulah kenapa dia tak terlalu berharap yang lebih dan muluk-muluk dari orang itu. Merasa dicintai oleh orang itu saja menbuat dia senang bukan kepalang. Dia tak berani menginginkan lebih dari apa yang orang itu bisa berikan. Karena orang itu sudah memberikannya banyak hal. Waktu, tenaga, pikiran, semuanya sudah dikorbankan demi dia. Lalu apa lagi yang berhak dia minta dari orang itu? Tak ada. Dia tak menginginkannya.
Itulah kenapa ketika orang itu mengatakan sesuatu yang membuatnya sadar akan cacatnya sebagai manusia, dia tidak berani melawan. Meski orang itu menjelaskan bahwa itu hanya salah paham, tapi dia tetap berpikiran lain.
Dia memang tidak mampu memberikan apa yang orang itu maksud. Meski orang itu tidak mempermasalahkannya tapi buat dia, itu adalah sesuatu yang penting dan dia tak mampu memberikannya pada orang itu. Kalaupun dulu dia memberikannya pada orang lain, yang menurut dia juga karena cinta, tapi pada saat sekarang dia merasa menyesal setengah mati. Dan mulai saat itu dia bersumpah tidak akan memberikan hal itu lagi pada siapapun, termasuk atas nama cinta. Termasuk pada orang itu.
Yang membuatnya sedih adalah bahwa masih banyak yang berpikiran bahwa sesuatu itu disamakan dengan pengorbanan atas nama cinta. Sesuatu itu, sama dengan cinta.
Dia mencintai orang itu. Tapi jika dia tak memberikan sesuatu itu, bukan berarti dia tidak cinta. Bukan berarti dia membedakan antara orang itu dan orang lain yang lebih dulu mendapatkannya. Kehilangan sesuatu itu adalah sebuah kehilangan yang sangat besar. Yang menempatkan dirinya ke dasar yang paling hitam dalam hidupnya. Kotor dan penuh penghinaan.
…
Dia beranjak dari sofa dengan bantal yang masih didekapnya. Dia berdiri di belakang jendela kaca. Butir-butir air mulai terlihat dan semakin besar. Angin semakin kencang bertiup. Lalu dia mulai berucap lirih. Berharap kalimatnya ini sampai oleh angin kepada orang itu.
“Aku mencintaimu dengan caraku. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu. biarlah sesuatu yang hilang itu tetap hilang dan takkan kembali. Aku tidak ingin kehilangan untuk yang kesekian kali. Tapi meski begitu aku tetap mencintaimu. Jangan meragukan cintaku meski aku tak bisa memberikannya padamu. Bila dulu orang lain mendapatkannya dan sekarang kau tidak, bukan berarti aku mencintainya dan tidak mencintaimu. Aku cacat. Tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan. Aku hanya punya cinta. Aku hanya punya hati. Aku hanya punya komitmen untuk tetap setia ditengah-tengah banyak godaan. Aku memilihmu bukan karena memang sudah tak ada lagi pilihan. Aku memilihmu bukan karena hanya kau yang mau melihat cacatku. Tapi aku memilihmu karena aku jatuh cinta padamu. Entah akan seperti apa akhirnya. Tapi aku mencintaimu karena aku mencintaimu”
Dia mundur selangkah. Ditariknya tirai dari sisi kiri jendela. Begitu juga dari sisi kanan. Dan suasana menjadi gelap ketika kedua bilah tirai itu menutup jendela kaca.
Dia berjalan menuju sofa dan membaringkan diri diatasnya. Dia merasa lelah. Dia ingin tidur. Dia menarik nafas panjang ketika kepalanya bersandar pada bantal kecil itu.
Perlahan dia mulai menutup matanya dan sesuatu terdengar dari mulutnya.
“Aku membebaskanmu untuk mencari apa yang kau butuhkan kekasihku. Maaf karena aku tidak bisa memberikanmu banyak. Tapi inilah cintaku yang akan membebaskanmu…”
Lalu dia memejamkan matanya. Nafasnya mulai lirih terdengar.
Dan diapun tertidur.